HARTA
(Bahasa Indonesia)
|
ASSET
(Bahasa Inggris)
|
Harta menurut bahasa yaitu sesuatu yang dapat diperoleh dan dikumpulkan oleh manusia dengan suatu tindakan baik berwujud materi maupun manfaat.
Harta(aktiva) menurut akuntansi adalah sumber daya ekonomi perusahaan
yang juga meliputi biaya-biaya yang terjadi akibat transaksi sebelumnya dan
mempunyai mafaat di masa yang akandating. Harta merupahkan kekayaan yang
dimiliki oleh perusahaan untuk menjalan kanusahanya. Harta perusahaan ini
dapat di bedakan atas kelancaran (likuiditas), yaitu hartalancar, investasi
jangka panjang, harta tetap, harta tak berwujud, dan harta-harta lainnya.
1. Harta Lancar / Aktiva Lancar / Current Assets
Harta lancar adalah harta yang berbentuk uang tunai maupun aktiva lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang tunai dalam jangka satu tahun. Contoh : piutang dagang, biaya atau beban dibayar di muka, surat berharga, kas, emas batangan, persediaan barang dagang, pendapatan yang akan diterima, dan lain sebagainya. 2. Harta Investasi / Aktiva Ivestasi / Investment Assets Harta Investasi adalah harta yang diinvestasikan pada produk-produk investasi untuk mendapatkan keuntungan. Contoh : Reksadana, saham, obligasi, dan lain-lain.
3. Harta Tak Berwujud / Intangible Assets
Aset tak berwujud adalah harta yang tidak memiliki bentuk tetapi sah dimiliki perusahaan dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Contoh : Merk dagang, hak paten, hak cipta, hak pengusahaan hutan / hph, franchise, goodwill, dan lain sebagainya. 4. Harta Tetap / Aktiva Tetap / Fixed Assets Harta tetap adalah harta yang menunjang kegiatan operasional perusahaan yang sifatnya permanen kepemilikannya. Contoh : Gedung, mobil, mesin, peralatan dan perlengapan kantor, dan lain-lain.
5. Harta Lainnya / Other Assets
Harta lain adalah perkiraan atau akun yang tidak dapat dikategorikan pada harta atau aset di atas baik dalam bentuk aset tetap, aset investasi, aset tak berwujud dan aset lancar. Contoh : Mesin rusak, uang jaminan, harta yang masih dalam proses kepengurusan yang sah, dan lain-lain. |
Treasure according to the language
that is something that can be acquired and collected by humans with a good
action and tangible material benefits.
Possessions
(assets) according to economic resource accounting is a company that also
include costs incurred before and have akandating mafaat in the future.
Merupahkan treasure assets owned by the company to execute kanusahanya. This
company property can be differentiated on the smooth (liquidity), ie
hartalancar, long-term investments, fixed assets, intangible assets, and
other treasures.
1. Current Assets / Current Assets /
Current Assets
Current assets are assets in the form
of cash or other assets that can be redeemed for cash within one year.
Example: accounts receivable, costs or
expenses paid in advance, securities, cash, gold, merchandise inventory,
revenue to be received, and so forth.
2. Property Investment / Asset
investment is / Investment Assets
Investment treasure is treasure
invested in investment products for profit.
Example: Mutual funds, stocks, bonds,
and others.
3. Intangible Assets / Intangible Assets
Intangible assets are assets that do not have a valid
form but owned company and can generate profits for the company.
Example: trademarks, patents, copyrights, concession /
concessions, franchises, goodwill, and so forth.
4. Fixed Assets / Assets / Fixed Assets
Fixed assets are assets that support the company's
operations are permanent ownership.
Example: building, automobile, machinery, equipment and
perlengapan office, and others.
5. Other Assets / Other Assets
Another treasure is an estimate or an account that can
not be categorized in the property or assets of the above either in the form
of fixed assets, investment assets, intangible assets and current assets.
Example: The machine is damaged, bail, wealth is still
in the process of legitimate governance, and others.
|
Rabu, 25 Maret 2015
HARTA
Selasa, 16 Desember 2014
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN
DATA
Pengumpulan data tidak lain dari suatu
proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Data yang dikumpulkan dapat juga berupa data
sekunder, yang artinya data tersebut diperoleh bukan dari hasil penelitiannya
sendiri, tetapi merupakan data yang dikumpulkan oleh orang lain dan diolah
kembali oleh si peneliti. Pengumpulan
data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada
umumnya, data yang dikumpulkan akan digunakan untuk menguji hipotesis yang
telah dirumuskan. Data yang dikumpulkan
harus cukup valid untuk digunakan. Pengumpulan data adalah prosedur sistematis
dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode
mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan.
Sumber
Data
Terdapat dua sumber
data penelitian terdiri atas: sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Data Primer (Primary Data)
Data
primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari
sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus
dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data primer
dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil
observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil
pengujian. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data primer,
yaitu: (1) metode survei dan (2) metode observasi.
2. Data Sekunder (Secondary Data)
Data
sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak
langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data
sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah
tersusun dalam arsip yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan.
Keuntungan menggunakan data sekunder
adalah lebih murah, lebih cepat, dan dalam kenyataan sering peneliti tidak
terlalu mampu untuk mengumpulkan data primer sendiri, misalnya sensus penduduk.
Bentuk data sekunder ada dua
kategori yaitu berasal dari sumber internal dam sumber eksternal. Data internal
tersedia pada tempat penelitian dilakukan misalnya faktur penjualan, laporan
penjualan, laporan hasil riset yang lalu, dan lain-lain. Data eksternal dapat
diperoleh dari sumber-sumber luar misalnya, data sensus penduduk dan
registrasi. Data yang diperoleh dari badan atau perusahaan yang aktivitasnya
mengumpulkan keterangan-keterangan yang relevan akan berbagai masalah.
Adapun manfaat dari data primer
adalah dikumpulkan untuk mencapai tujuan penelitian, tidak ada risiko
kadaluwarsa karena dikumpulkan setelah proyek penelitian dirumuskan, semua data
dipegang oleh peneliti, mengetahui kualitas dari metode-metode yang dipakainya
karena dialah yang mengatur sejak awal.
Metode
Pengumpulan Data
A.
Metode pengumpulan data sekunder
Metode pengumpulan data sekunder
sering disebut metode pengumpulan bahan dokumen, karena peneliti tidak secara
langsung mengambil data sendiri tetapi memanfaatkan data atau dokumen yang
dihasilkan oleh pihak-pihak lain.
Pada umumnya, data sekunder yang
digunakan oleh pihak peneliti untuk memberikan gambaran tambahan, gambaran
pelengkap, ataupun untuk diproses lebih lanjut. Dalam metode pengumpulan data
sekunder, obsevator tidak meneliti langsung, tetapi data didapatkan misalnya
dari media massa, BPS, lembaga pemerintah maupun swasta, lembaga penelitian
maupun pusat bank, data hasil penelitian lain, penelitian kepustakaan dalam hal
untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan karya yang pernah dicapai oleh para
peneliti terdahulu. Dengan penelitian kepustakaan, akan melatih peneliti untuk
membaca kritis segala bahan yang dijumpainya, kecermatan dan ketelitian
peneliti akan sangat teruji dalam memutuskan sumber yang dipercayanya.
B. Metode pengumpulan data primer
Terdapat dua hal utama
yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas instrumen
penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara untuk mengumpulkan
data yaitu: interview (wawancara), kuisioner, dan observasi (pengamatan) atau
mungkin saja ketiganya.
1.
Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan
sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, dan juga apabila
peneliti ingin mengetahui hal-hal yang dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sangat sedikit
Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
1. Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur
digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti atau pengumpul data
telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang akan diperoleh. Dengan
wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan
alternatif jawaban yang sama.
2. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak
terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan
pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk
pengumpulan datanya. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan
dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam terhadap
responden.
Contoh
Wawancara
saya : maaf pak
bolehkan saya meminta waktu bapak sebentar
Ks : iya, ada apa ya?
saya : begini pak,
saya.....ingin mewawancarai bapak, apa boleh?
Ks : oh iya, silahkan
saya : kalau boleh tahu
sudah berapa lamabapak menjabat sebagai kepala sekolah?
Ks : sekitar ...tahun
saya : apa bapak menikmati
pekerjaan bapak selama menjadi kepala sekolah
Ks : oh iya tentu
saya : kalau boleh
tahu, sehari hari bapak pergi ke sekolah mengendarai apa?
Ks : kalau saya naik
mobil
saya : apakah bapak
mempunyai anak, kelas berapa sekarang?
Ks : ya saya mempunyai seorang
anak laki laki, sekarang kelas 4 SD
saya : ya sudah pak,
saya rasa ini cukup. maaf telah mengganggu bapak, terima kasih
Ks : iya sama sama
2.
Kuisioner (Angket)
Angket atau kuesioner
adalah instrumen penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh
keterangan dari sejumlah responden (sumber yang diambil datanya melalui
angket). Angket atau kuesioner dapat disebut sebagai wawancara tertulis, karena
isi kuesioner merupakan satu rangkaian pertanyaan tertulis yang ditujukan
kepada responden dan diisi sendiri oleh responden.
Angket digunakan dengan
mengedarkan formulir yang berisi beberapa pertanyaan kepada beberapa subjek
penelitian (responden) untuk mendapat tanggapan secara tertulis. Angket
merupakan sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah
penelitian, setiap pertanyaan merupakan jawaban yang mempunyai makna dalam
menjawab permasalahan penelitian. Pertanyaan pada angket biasanya meliputi :
- Fakta, yaitu informasi yang diketahui responden, misalnya pendidikan, pendapatan, jumlah tanggungan;
- Pendapat, yaitu pertanyaan yang dapat dijawab dengan baik tidak baik, setuju tidak setuju, dan sebagainya;
- Persepsi diri, yaitu pertanyaan tentang cara responden menilai diri sendiri, misalnya bagaimana pandangan responden terhadap kegiatan tetangganya.
- Pertanyaan dalam angket harus dirumuskan dalam bahasa yang akan mempermudah responden mengisi angket. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
- Kalimat harus sederhana, Apakah Ibu bersuami?
- Pertanyaan harus khas, Apakah Anda puas dengan harga makanan di kantin kampus?
- Pertanyaan jangan bermakna ganda, Apakah Bapak akan masuk Kelompok Tani? Seharusnya, Apakah Bapak akan menjadi anggota Kelompok Tani?
- Hindari pertanyaan yang bersifat sugesti, misalnya Apakah Anda membaca koran seperti Kompas dan Tribun? Seharusnya Apakah Anda membaca koran Kompas?
- Hindari pertanyaan yang bersifat presumsi, yaitu anggapan bahwa responden telah mengetahui informasi yang akan ditanyakan, misalnya jenis pupuk apa yang Anda gunakan? Seharusnya tanyakan dulu, Apakah Anda menggunakan pupuk?
- Jangan menggunakan pertanyaan yang membuat responden tersinggung dan malu.
Berikut
ini contoh bentuk dari Kuisioner untuk Pertanyaan Tertutup :
Yth.
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari
Dalam rangka Penelitian
Tugas Akhir yang bertema Usulan Perbaikan Design Kemasan Mi Instant tipe A
dengan Metode Rasionel, maka saya yang melakukan penelitian :
Nama :
Bobbi Pratama
No.Mhs
: 4046
Program Studi : Teknik Industri
Fakultas
: Teknologi Industri
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
memohon
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berkenan untuk mengisi kuisioner berikut ini, karena
tanpa partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian, penelitian ini tidak
dapat dilaksanakan.
——————————————————————————————————–
Bagian I
DATA RESPONDEN
Petunjuk : Berilah
tanda ( v ) pada kotak didepan informasi yang sesuai menurut Anda.
1. Jenis Kelamin
a. Pria
b. Wanita
2. Usia
a. kurang dari 17 tahun
b. antara 17 – 25 tahun
c. antara 26 – 35 tahun
d. antara 36 – 45 tahun
e. lebih dari 45 tahun
3. Apakah anda pernah
membeli Mi Instant?
a. Ya
b. Tidak
4. Dimana tempat anda
bisa membeli Mi Instant?
a. Warung
b. Toko
c. Minimarket
d. Supermarket
5. Berapa kalikah anda
membeli Mi Instant dalam 1 bulan?
kurang dari 1 kali
a. 1 kali
b. 2 kali
c. 3 kali
d. lebih dari 3 kali
Bagian II
PREFERENSI DAN PERSEPSI
RESPONDEN
Bagian II.1 Preferensi Responden
Petunjuk : Berilah
tanda ( v ) pada salah satu pilihan jawaban tingkat kepentingan yang sesuai
preferensi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat jenis kemasan Mi Instant
dibawah ini.
Berikut ini merupakan
daftar nilai referensi :
1. Sangat Penting (STP)
2. Tidak Penting (TP)
3. Cukup Penting (CP)
4. Penting (P)
5. Sangat Penting (SP)
Bagian II.2 Persepsi
Respoden
Petunjuk : Berikan
nilai persepsi (skala 1-5) yang menunjukkan tingkat kepuasan
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat jenis kemasan Mi Instant di bawah ini.
Berikut ini adalah
keterangan nilai persepsi ;
1 = Sangat Tidak
Memuaskan
2 = Tidak Memuaskan
3 = Cukup Memuaskan
4 = Memuaskan
5 = Sangat Memuaskan
Contoh :
Bila pengisian seperti
contoh diatas, maka Bapak/Ibu/Saudara/Saudari menganggap bahwa Kejelasan
penulisan merk merupkan faktor yang sangat penting bagi sebuah produk Mi
Instant, dan berdasarkan persepsi anda untuk faktor kejelasan penulisan merk
untuk kemasan A memiliki tingkat sangat memuaskan, kemasan B memiliki tingkat
memuaskan, kemasan C memiliki tingkat cukup memuaskan, dan kemasan D memiliki
tingkat cukup memuaskan.
Referensi
:
Jumat, 24 Oktober 2014
TUGAS SOFTSKILL 2
DEDUKSI
DAN INDUKSI
A.
DEDUKSI
Deduksi
berasal dari bahasa inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari
keadaan-keadaan umum, menemukan yang khusus dari yang umum.
Deduksi
adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan
yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola pikir silogisme yang secara sederhana digambarkan sebagai
penyusun dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung
silogisme disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan
premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran
deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Metode berpikir deduktif adalah
metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk
seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Kita melihat gambaran
besar sebelum ke gambaran yang lebih spesifik.
Contoh :
Beberapa
hasil penelitian menunjukkan bahwa teh mempunyai banyak manfaat. Mengonsumsi
teh secara teratur dapat mencegah kanker meskipun tidak terlalu besar. Teh juga
menguatkan tulang dan mencegah pertumbuhan plak di permukaan gigi sehingga
mencegah gigi berlubang. Tidak hanya memenuhi kebutuhan cairan tubuh seperti
air putih, teh juga dapat melawan penyakit jantung.
Penalaran deduksi ada
dua macam, yaitu:
1.
Silogisme
Merupakan penarikan
kesimpulan melalui dua premis (premis umum dan premis khusus) guna menurunkan
premis baru (simpulan).
PU : A = B
PK : C = A
S : C = B
Contoh:
Semua pemilik mobil
wajib membayar pajak.
Pak Budiman memiliki
sebuah mobil.
Maka
kesimpulannya:
Pak Budiman wajib
membayar pajak
PU : Semua pemilik
mobil wajib membayar pajak
A = B
PK : Pak Rizal
memiliki sebuah mobil.
C =
A
S : Pak Hendra wajib
membayar pajak
C = B
2.
Entimem
Merupakan penarikan
kesimpulan melalui dua premis (premis umum dan premis khusus) guna menurunkan
premis baru (simpulan). Namun, dalam penarikan kesimpulan dalam entimem
diberikan alasan sebagai penyebabnya.
PU : A = B
PK : C = A
S : C = B karena C = A
Contoh:
PU : Semua warga
yang sudah berumur 17 tahun wajib memiliki KTP
A = B
PK : Monica sudah
berumur 17 tahun
C
= A
S : Monica wajib
memiliki KTP, karena Monica sudah berumur 17 tahun
C = B C = A
B.
INDUKSI
Induksi
adalah menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan
pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan
pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum.
Metode
berpikir induktif dimana cara berpikir dilakukan dengan cara menarik suatu
kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.
Untuk itu, penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam
menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Macam
– macam penalaran induksi yaitu:
1. Generalisasi
Penalaran
jenis ini dimulai dengan mengemukakan peristiwa-peristiwa yang khusus untuk
diambil simpulannya secara umum.
Contoh:
Tembaga
bila dipanaskan akan memuai
Perak
bila dipanaskan akan memuai
Timah
bila dipanaskan akan memuai
Emas
bila dipanaskan akan memuai
Besi
bila dipanaskan akan memuai
Alumunium
bila dipanaskan akan memuai
Dari
peristiwa-peristiwa itu dapat ditarik kesimpulan bahwa semua logam bila
dipanaskan akan memuai.
2. Analogi
Penalaran
jenis ini dimulai dengan membandingkan dua hal yang memiliki banyak persamaan.
Dalam penalaran ini banyak terdapat persamaan. Akhirnya, ditarik simpulan bahwa
pada segi-segi yang lain pun tentu akan terdapat persamaan juga.
Contoh:
Perawatan
tanaman dilakukan dengan seksama, yaitu diberi pupuk, disirami, dan disiangi
rumput yang mengganggunya. Dengan begitu, tanaman tumbuh subur dan berkualitas
baik. Jika berbuah pun dapat dinikmati dengan rasa puas. Begitu pula manusia.
Sejak bayi, sang ibu memperhatikan gizi, memberi kasih sayang, dan pendidikan
yang layak, serta menghindarinya dari hal-hal yang negatif. Kelak si anak
menjadi orang yang berguna dan keberadaannya dibutuhkan orang. Jadi, merawat
dan membesarkan anak hingga menjadi orang yang berguna sama seperti merawat
tanaman untuk memperoleh kualitas yang baik
3.
Hubungan Kausalitas
Hubungan
kausal adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang
memiliki pola hubungan sebab-akibat.. Salah satu variabel (independen)
mempengaruhi variabel yang lain (dependen).
Contoh :
· Hubungan kepandaian
dengan kekayaan (Diasumsikan kepandaian membuat orang bisa kaya, dan sebaliknya
karena kaya orang mempunyai biaya untuk belajar sehingga pandai).
· Kemarin Badu tidak
masuk kantor. Hari ini pun tidak. Pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli
obat. Karena itu, pasti Badu sedang sakit.
4.
Induksi Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah
satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis
dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya
penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi
uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi
dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi
ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi
demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun
eksposisi:
•
Menentukan topik/tema
•
Menetapkan tujuan
•
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
•
Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
•
Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
Referensi
:
Minggu, 05 Oktober 2014
TUGAS SOFTSKILL
PARAGRAF
INDUKTIF DAN DEDUKTIF
Paragraf adalah susunan
dari beberapa kalimat yang terjalin utuh, mengandung sebuah makna, dan
didalamnya terdapat gagasan utama.
Paragaraf deduktif dan Induktif adalah salah satu contoh paragraph yang dilihat dari letak gagasan utamanya.
Paragaraf deduktif dan Induktif adalah salah satu contoh paragraph yang dilihat dari letak gagasan utamanya.
A. PARAGRAF DEDUKTIF
Paragraf deduktif adalah
paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragaraf dan dilengkapi dengan
kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Paragraf ini diawali dengan pernyataan
umum dan disusul dengan penjelasan
umum. Istilah deduktif berarti bersifat deduksi.
Kata deduksi yang berasal dari bahasa Latin: deducere, deduxi,
deductum berarti “menuntun ke bawah, menurunkan” deduction berarti
“penuntunan, pengantaran”. Paragraf deduktif adalah paragraf
yang dimulai dari pernyataan yang bersifat umum, kemudian
diturunkan atau dikembangkan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang
bersifat khusus. Pernyataan yang bersifat khusus itu bisa berupa penjelasan, rincian, contoh-contoh,
atau bukti-buktinya. Karena paragraf itu dikembangkan dari pernyataan umum
dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan khusus, dapatlah dikatakan bahwa
penalaran paragraf deduktif itu berjalan dari umum ke khusus.
Contoh Paragraf Deduktif :
- Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya . Contohnya di pulau Sumatra yang terdiri dari suku batak, suku minang , suku aceh, suku melayu dan lain-lain yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Bukan hanya dipulau Sumatra saja, bahkan di pulau Jawa, Kalimantan, dan juga pulau-pulau lainnya juga terdapat macam-macam suku dengan kebudayaannya.
- Teh hijau dapat berfungsi menjaga kesehatan kulit secara alami. Hal tersebut di karenakan teh hijau dapat melindung kulit kita dari sengatan sinar ultraviolet sehingga secara tidak langsung dengan sering mengkonsumsi teh hijau dapat membuat kita terhindar dari penyakit kanker kulit. Selain dapat mencegah penyakit kanker kulit, teh hijau juga terbukti mampu membuat kulit kita tidak cepat keriput.
B. PARAGRAF INDUKTIF
Paragraf induktif adalah
adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang
khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa
khusus di atas. Ciri-ciri Paragraf Induktif antara lain :
- Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa
khusus
- Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan
peristiwa-peristiwa khusus
- Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
Jenis Paragraf Induktif :
a. Generalisasi
b. Analogi
c. Klasifikasi
d. Perbandingan
e. Sebab akibat
Istilah induktif berarti
bersifat induksi. Kata induksi yang berasal dari bahasa Latin: ducere,
duxi, ductum berarti “membawa, mengantarkan”, inducere, induxi,
inductum berarti “membawa ke, memasukkan ke dalam”. Lebih lanjut
istilah induksi dijelaskan sebagai metode pemikiran yang bertolak
dari hal khusus untuk menentukan hukum atau simpulan.
Karena pernyataan khusus dapat berupa contoh-contoh, dan pernyataan umum
itu berupa hukum atau simpulan, maka dapat dikatakan bahwa
paragraf induktif itu dikembangkan dari contoh ke hukum atau simpulan.
Berbeda dengan paragraf
deduktif, pada paragraf diatas kita seperti menarik kesimpulan dari kalimat –
kalimat yang ada pada awal paragraf. inilah perbedaan paling signifikan antara
paragraf deduktif dan induktif, pada paragraf induktif kalimat utamanya ada
pada akhir paragraf yang juga merupakan kesimpulan dari paragraf itu sendiri.
Contoh paragraf induktif :
- Penampilannya unik, dalam 1 daun ada dua warna atau lebih. Kelangkaannya membuat ia diburu para kolektor. Harganya menyamai karya seni, meroket ratusan kali lipat. Hanya satu yang diinginkan para kolektor, yaitu keeksklusifannya. Bayangkan saja, peluang satu berbanding satu juta kelahiran. Itulah taman variegate.
- Maka dari itu saya sangat setuju dengan adanya kegiatan kerja bakti seminggu sekali. Karena, jika lingkungan hidup bersih maka kita juga akan sehat. Maka dari itu, kegiatan kerjanbakti sangat penting di lingkungan sekolah.
Langganan:
Postingan (Atom)